Penal Alternatives Without Non-Penal Infrastructure: Reconstructing Integral Criminal Policy in Indonesia’s New Criminal Code
DOI:
https://doi.org/10.0805/9qe06e70Kata Kunci:
Integral Criminal Policy, Non-Custodial Sanctions, Community Supervision, Execution Capacity, Indonesian Criminal Code, Penal ReformAbstrak
This study examined why Indonesia's correctional population failed to decline after Law Number 1 of 2023 on the Criminal Code entered into force on January 2, 2026, notwithstanding the Code's explicit reorientation of punishment toward resocialization, conflict resolution, and the restoration of social equilibrium. The research applied normative legal method using statutory, conceptual, and comparative approaches. The study found that the integration of the treatment of offenders and the treatment of society was already substantially complete at the formulation stage, so that the persistent deficit lay elsewhere. Three execution discontinuities were identified. The non-custodial alternatives did not reach the narcotics population that constituted the majority of correctional occupants; community supervision capacity remained far below the caseload the alternatives presupposed; and community placement depended on voluntary cooperation agreements rather than any legal obligation. The study concluded that the treatment of society must be reconstructed from a social aspiration into an enforceable institutional precondition, and proposed an execution-capacity model comprising statutory duty, budgetary anchoring, judicial verification, and periodic reporting.
Unduhan
Referensi
Arief, Barda Nawawi. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana: Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru. Jakarta: Kencana, 2010.
Cavadino, Michael, and James Dignan. Penal Systems: A Comparative Approach. London: SAGE Publications, 2006.
Cohen, Stanley. Visions of Social Control: Crime, Punishment and Classification. Cambridge: Polity Press, 1985.
Direktoran Jenderal Pemasyarakatan. Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-145.OT.02.02 Tahun 2025 tentang Pedoman Pembimbingan Kemasyarakatan Klien Pidana Kerja Sosial (2025).
Direktoran Jenderan Pemasyarakatan. “Jumlah Penghuni Pemasyarakatan.” Sistem Database Pemasyarakatan Publik. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, August 26, 2026. https://sdppublik.ditjenpas.go.id/analisa/jumlah-penghuni.
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. “Ditjenpas Gandeng Media Perkuat Edukasi Publik soal Program Prioritas.” Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, August 26, 2026. https://www.ditjenpas.go.id/ditjenpas-gandeng-media-perkuat-edukasi-publik-soal-program-prioritas.
Direktprat Jenderal Pemasyarakatan. “Pidana Kerja Sosial dan Pelayanan Masyarakat: Alternatif Pemidanaan Humanis dalam KUHP Baru dan UU SPPA.” Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, August 26, 2026. https://www.ditjenpas.go.id/pidana-kerja-sosial-dan-pelayanan-masyarakat-alternatif-pemidanaan-humanis-dalam-kuhp-baru-dan-uu-sppa.
Hamja. “Implikasi Overcrowding terhadap Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia.” Mimbar Hukum 34, no. 1 (2022): 296–324.
Hoefnagels, G. Peter. The Other Side of Criminology: An Inversion of the Concept of Crime. Deventer: Kluwer, 1973.
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. “RDP Komisi XIII DPR RI, Ditjenpas Sampaikan Upaya Reformasi Sistem Pemasyarakatan,” August 26, 2026. https://kemenimipas.go.id/berita-utama/rdp-komisi-xiii-dpr-ri-ditjenpas-sampaikan-upaya-reformasi-sistem-pemasyarakatan.
Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. “Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Jenderal Pemasyarakatan.” 2026.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. “Perkembangan Bapas dan Pembimbing Kemasyarakatan Dinilai Tak Optimal,” August 26, 2026. https://www.mkri.id/berita/perkembangan-bapas-dan-pembimbing-kemasyarakatan-dinilai-tak-optimal-24970.
Muladi, and Barda Nawawi Arief. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. Bandung: Alumni, 1984.
Pratt, John. “Scandinavian Exceptionalism in an Era of Penal Excess: Part I: The Nature and Roots of Scandinavian Exceptionalism.” The British Journal of Criminology 48, no. 2 (2008): 119–37. https://doi.org/10.1093/bjc/azm072.
Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (1945).
———. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (2023). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6842.
———. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana (2026). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 7153.
———. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan (2022). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 165. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6811.
———. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (2009). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062.
Sudarto. Hukum dan Hukum Pidana. Bandung: Alumni, 2007.
Wijaya, Trio Sandra, and Muhamad Adystia Sunggara. “Implementation Gap of Social Inquiry Report in Restorative Justice Processes for Adult Offenders in Minor Criminal Cases.” Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum 19, no. 3 (2025): 185–96.







